AI Bikin Guru Makin Percaya Diri! Hari Ke-4 Pelatihan WANGSIT Rupabagi Al Fiqoriyah Hadirkan Cara Baru Menyusun Program Tahunan

Bojonggede, Bogor – 25 Juni 2026 – Memasuki hari keempat Pelatihan Program WANGSIT Rupabagi (Ruang Belajar & Berbagi) Guru Profesional bertema "Guru Masa Depan: Menguasai Era AI untuk Tetap Relevan dan Berdampak", suasana Aula Yayasan Pondok Pesantren Al Fiqoriyah dipenuhi semangat belajar, kolaborasi, dan inovasi. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026 ini menghadirkan Reza Ahmad Wildan, M.Pd. sebagai narasumber peltihan diikuti oleh jajaran Pengurus Yayasan, Kepala MI, MTs, MA, serta seluruh Majelis Guru Yayasan Pondok Pesantren Al Fiqoriyah (YPPAF).
Fokus pelatihan hari keempat adalah praktik menyusun Program Tahunan (Prota) secara rasional, sistematis, dan berbasis Artificial Intelligence (AI). Melalui pemanfaatan Claude AI, para guru dibimbing memahami bagaimana Prota disusun berdasarkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), pemetaan alokasi waktu, serta kalender pendidikan sehingga menghasilkan dokumen yang lebih akurat dan siap diimplementasikan.
Pada sesi pertama, peserta melakukan review ATP yang telah disusun sebelumnya, kemudian mempelajari fungsi, prinsip, dan keterkaitan Prota dengan keseluruhan manajemen pembelajaran. Pemateri juga memperkenalkan konsep "Bahan Bakar" sebagai data yang harus dipersiapkan serta "Mantra Sakti" sebagai teknik menyusun instruksi (prompt) yang mampu menghasilkan dokumen Prota berkualitas melalui Claude AI.
Memasuki sesi praktik, setiap guru langsung menyusun Program Tahunan sesuai mata pelajaran masing-masing. Hasil yang diperoleh kemudian disinkronkan dengan pemetaan alokasi waktu dan kalender pendidikan sebelum dilakukan proses review dan penyempurnaan bersama.
Salah satu momen paling menarik terjadi ketika setiap kelompok mempresentasikan hasil penyusunan perangkat pembelajaran dan Program Tahunan yang telah mereka buat menggunakan AI. Berbagai ide, strategi, dan inovasi pembelajaran bermunculan, menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat pekerjaan guru tanpa mengurangi kualitas perencanaan pembelajaran.
Keceriaan peserta semakin terasa ketika panitia menghadirkan games interaktif sebagai sesi ice breaking. Suasana aula yang semula dipenuhi diskusi serius berubah menjadi penuh tawa dan semangat, menciptakan energi baru sebelum peserta kembali melanjutkan praktik penyusunan Prota.
Tak hanya itu, untuk memastikan ilmu yang diperoleh terus berkembang setelah pelatihan berakhir, panitia juga membentuk kelompok belajar dengan sistem koordinator atau ketua kelompok sebagai coach. Model pendampingan ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antar guru, mempercepat proses adaptasi teknologi AI, sekaligus menjadi wadah berbagi pengalaman dalam mengembangkan perangkat pembelajaran.
Banyak peserta mengaku merasa lebih bahagia dan percaya diri setelah merasakan langsung manfaat AI dalam membantu menyusun dokumen pembelajaran. Pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih cepat, lebih sistematis, dan tetap sesuai dengan kebutuhan kurikulum.
Melalui Program WANGSIT Rupabagi, Yayasan Pondok Pesantren Al Fiqoriyah kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak guru yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan penggunaan AI sebagai alat bantu, tetapi juga membangun budaya belajar kolaboratif agar para pendidik mampu menghadirkan pembelajaran yang semakin efektif, relevan, dan berdampak bagi peserta didik di era digital.
Komentar (0)
- Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!